Saya akan belajar Mencintai dengan cara Dicintai…

Entahlah, kata-kata itu mungkin yang saat ini muncul jadi bahan tulisan. Sebenarnya, apa arti Cinta itu sendiri masih kabur bagi Saya. Dulu Saya bisa bilang, “Saya ingin jatuh cinta setelah Saya menikah”. Kenyataannya, Saya perlu jatuh cinta, atau setidaknya merasa bisa jatuh cinta dulu, untuk mau melangkah lebih… Halaaaahhh…
But… Mungkin, Saya akan mulai lagi dengan cara berpikir Saya yang lebih…humm… berdasar evidence based. Hehe… Saat Saya mengamati beberapa orang, terutama orang itu dan itu, Saya melihat, adanya ketertarikan yang sangat “waah”, dimana sangat tampak saling menginspirasi, dan memotivasi, menerima masukan, dan… Mungkin, basic-nya, mereka adalah orang-orang berpengalaman dalam membagi inspirasi dan motivasi.. Ya, orang-orang yang berbakat seperti itu pasti ada. Sedangkan Saya sendiri, jika dihadapkan pada mereka, rasanya Saya bukan apa-apa. Saya lebih sering dibilang tidak mau mendengarkan, sementara kadang atau kerap Saya juga merasa tidak didengarkan.
Saya tidak dewasa. Dan rasanya tidak akan pernah menjadi lebih dewasa dengan terus bertahan di lingkungan orang yang tidak membutuhkan Saya. Seharusnya dengan kedewasaan, Saya bisa memilih dan memilah untuk dekat dengan siapa-siapa yang bisa menjadikan hidup sama-sama berarti dan lebih baik. Bukan hanya lebih baik soal materi, duniawi, di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Allah SWT.
Orang Dewasa tidak hanya bermain janji, tapi komitemen…
Komitmen itu dibuat bersama. Sama-sama komit kalau hal A ini baik atau buruk. Baiknya…begini…
Entah, apakah Saya sudah atau sedang atau masih jatuh cinta.. Tapi rasanya, sebaiknya tidak ditumbuhkan!
Bukan soal pernyataan atau deklarasi apalagi pengakuan. Cukup Saya lihat dan Saya rasakan… Dan Saya semakin yakin, sebelum jatuh cinta Saya harus menjadi kuat dan memiliki modal yang besar dulu. Persepsinya apakah modal materi atau non materi, ya…mungkin dua-duanya. Yang jelas, Saya tidak mau lagi melihat laki-laki yang Saya sayangi, lebih terinspirasi dan tersemangati oleh perempuan lain! Saya semakin merasa bukan apa-apa. Emang sih…nggak punya apa-apa. Tentang usaha hidup, semua masih teori.
Huufft… Saya mau bangkit, Ya Rabb… Mau MengejarMu saja… Nanti pilihkan teman sejati untuk sama-sama mengejarMu, ya…
Rasanya, sudah tidak ada harapan..
Mari, kita berteman saja..
Maafkan, sudah mengganggu..
Ternyata Saya sudah lupa untuk malu bertemu..
Saat Saya bercermin…Saya berpikir..
Mungkin, teori ini juga yang dia miliki. Dia merasa Saya mencintainya, dan mungkin…bisa dia cintai kelak… Karena Saya tidak buruk rupa, Saya juga cukup baik, Saya juga tulus, cukup keibuan, maka… Secara logika dan itung-itungannya, Dia bisa merasa beruntung mendapatkannya. Tapi.. jika Saya bukan passion-nya, bukan api-nya, bukan power-nya.. Maka, Saya bukanlah guling, yang saat lelah bisa dipeluk-peluk tanpa dipikirkan bagaimana perasaannya.
Disana… Saya merasa masih ada banyak cinta..yang jatuh untuk Saya. Dan mungkin, bisa Saya temukan jawabannya. Bisa Saya tumbuhkan juga perasaan Saya padanya…

-gii-