A Marionette in Blue Purple Opera
Ki-Ta

Cinta yang sejati itu
dinamis dan campuran gado-gado
dari tertawa terpingkal-pingkal
mengenai sesuatu yang tidak lucu,
bertengkar hebat karena sebab yang sepele,
cemburu berpotensi talak ke 47 yang tak beralasan,
gemes tanpa sebab, sebel kesumat tanpa alasan,
dan mabuk kangen padahal dia dekat.

Cinta yang sejati itu tidak logis,
tapi menjadikan semuanya serasa masuk akal.

Mario Teguh - Loving you all as always


^_________________^

Badai & Pelangi

There must be a rainbow after the hurricane..


Saya tanamkan hal itu dalam-dalam.

Bukan berarti hidup Saya harus seperti sebuah fairy tale with happy ending story..

Tapi, hidup Saya memang harus BAHAGIA. Harus BERARTI. Harus BERMANFAAT..

Karena bahagia itu bukan sebatas menikah dengan orang yang saling mencintai, lalu punya anak-cucu..

*Kata siapa bisa mulus-mulus aja jalannya?*

So?

Jika kemarin Saya pernah NOrak di fesbuk, bebe, twitter, maka.. Noraknya harus bermanfaat. 

maksudnya, jadi paham, kenapa bisa se-Norak itu.. dan jadi bisa maklum kalau ada orang bisa bersikap Norak gituh..He :D Dan Noraknya itu tidak boleh berkelanjutan.

Jika kemarin2 juga sering marah, maka marahnya harus bermanfaat. Yap, jadi tahu..rasanya nggak enak marah. Dan lebih nggak enak membuat orang marah.

Tak ada hidup tanpa konflik. Dengan yang kita kenal, kita kira agak kenal, atau bahkan nggak kenal.

Tapi, Saya selalu menanamkan, bahwa suatu saat, saya dan tokoh2 konflik dalam hidup saya akan tertawa bersama.

Yap, Saya tidak mau mati membawa benci. Takut…

Saya tidak mau jadi manusia yang tidak bisa melihat bahwa Tuhan Mengamati.. bahwa Tuhan bangga pada hati yang senantiasa dibersihkan. Dan Saya mau jadi orang yang membuat Tuhan Saya, Allah SWT, bangga pada Saya.

Jauh dari semua itu. Meskipun Saya merasa sudah mengalami sikap tidak adil dan tidak dipahami. Saya berterima kasih untuk benci-nya. Bukan karena takut untuk dibenci dia. Tapi merasa sadar, Saya sudah terjerumus jauh pada bahaya lisan/tulisan. Dan Saya merasa terselamatkan. Entah, bagaimana jika Saya tidak pernah melakukan kesalahan itu. Pasti, Saya akan tetap merasa, “Saya nggak salah.. ini respon yang harusnya kamu pikir..” Ahahahhaha… Dan Saya, akan terus menjadi manusia yang merugi. Karena, tidaklah rugi hilang dari public place yang memancing cuap-cuap suka-suka. Tapi rugi, karena menjadi manusia yang lupa, mungkin Allah tidak suka… :)

Bagi Saya, badai itu adalah segala sesuatu yang dapat memporakporandakan nilai2 pribadi Saya. Dan Pelangi adalah ketika Allah, kembali mewarnai hati Saya dengan sikap Rahman-Rahim-Nya…

Terima kasih, Ya Rabb… Terima Kasih..

*untuk kamu : Salam kenal..  =)

Bismillah..

Bismillah..

Saya mau fokus pada cita-cita Saya…

Bismillah..

Saya mau fokus pada perbaikan akhlak dan hati Saya..

Bismillah..

Saya mau meluruskan niat Saya..

Setelah merasa aneh dengan diri sendiri, setidaknya 5 bulan terakhir (Lama amat dan telat nyadarnya^^), Saya merasa.. betapa manusia yang satu adalah ujian untuk manusia lainnya. Dan… Saya sudah jauuuuhh terperosok pada kekalahan. Padahal di pertengahan Maret kemaren, sudah hampir memenangkan langkah. Bukan memenangkan seseorang. Bukan. Tak ada perebutan seseorang. Semua yang Saya lakukan di awal tahun, semata untuk memenuhi juga permintaan dia dulu.. duluu.. setahunan yang lalu.. Agak nyesel menuhinnya.. He… Bikin emosi gak stabil.. Gimana rasanya, memenuhi permintaan dia, tapi dia lebih pilih diusahain orang lain??? Hekz.. Bikin punya konflik sama orang yang entah siapa. Bikin Kepo… Bikin… Aarrrghh… Stop, Gii!!! Please… It’s not you!! 

Saya tidak tahu bagaimana dia menempatkan Saya dulu ataupun sekarang. Dan Saya juga sebaiknya, tak perlu ingin tahu bagaimana. Dan tak perlu merasa dibohongi saat dia datang sendiri. Okeh.. waktu yang tepat kembali adalah saat ‘mantan’ sudah move on, namun masih belum menentukan pilihan baru..(Siapa suruh elo ga milih,Gii? -Abiss… Pilihannya kok jauh2 or too high class bwt gua??)

Pelajaran lain, tidak perlu membatasi orang bersikap seperti apapun pada masa lalunya. Biarkan.. Meskipun dia pasangan kita. Meskipun inginnya dia bisa menunjukkan serius atau paham, there’s a wound from his past… Biarlah, seiring waktu, Hati-Hati yang tidak tahu menahu, yang merasa lebih tahu, yang tidak peduli, atau yang merasa kurang peduli pun akan bergerak dalam lingkaran kebaikan.

And how about this wound? 

Ahahahaha… Saya lupa kalau sebentar lagi, insya Allah jadi dokter. Dan artinya, Saya harus tahu dan bisa cara mengobati diri dan hati Saya sendiri. Katakanlah, pasangan Saya itu dokter juga, misal.. Tapi kan dia bisa sibuk sama pasien2nya. Kasian, kalau nambah beban dia. Biarlah, dia yakin.. Saya sehat-sehat saja.. Okeh?

Bismillah..

Saya berjanji untuk tidak membenci.. 

Itu kuncinya. Jika pun seribu kekuatan berusaha menanamkan benci, semoga tidak terus Saya piara rasa sesaat itu. Ya, Saya kan bukan malaikat.. Pasti kotor hati sewaktu-waktu ada..

Sederet kata benci atau tidak suka yang pernah tercurah untuk Saya, Saya terima..

Childish..possesive..kurang berpendidikan..maen public place.. apalagi kah??

Semuanya ga bagus..

Dan kalau boleh membela diri, tahukah bahwa semua itu karena semua tanda tanya dan perasaan terlukai? Tapi Saya jawab sendiri, “Ga noda..ga belajar…”

Karena Saya jadi tau rasanya se-Norak itu..*dulu2 liat orang doank, dan saya rasa norak*, Saya tersenyum lebar + MALU.. Gue juga bisa yah begitu.. UDah ah.. mumpung belum mati, masih bisa diperbaiki…He… ^___^

Dimulakan dengan “Bismillahirrahmaanirrahiim”

Ayo, Gii… Let’s move Better!!! 

While, A Story Goes…

Lama ga kutak-ketik di blog ini.. He..:D 

Biasaa..sibuk..cape koas interna itu..^^

Kalo berani jadiin blog kayak diary, bakal peeeenuuuhh… keluhan2 peluh seorang koas.. dari bangsal-poli-hula-hula…  Yeaahh… I’m still busy since that. While…there’s a story goes…=)

Aku ingin menyapa Cinta

sederhana saja

Seperti hanya ada aku dan kamu

dan dengan ke empat tangan itu pun, banyak cerita baru bisa dimulai

Aku bilang cerita baru

karena aku tak mau tahu yang lalu

Kita hanya perlu memperbaiki

Cara pandang dan merangkainya

Entah besok memberi jawab apa

Tapi sekarang, adalah jawaban dari hari kemarin

Bagiku, hatiku dirombak sangat hebat sejak itu

Mau hancur bisa

Mau kuat juga sangat bisa

Tapi ada satu yang aku dan kamu juga sadari

Tak semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua

Yang lebih kuat dari sebelumnya..

Mau narik napas..

Cita-cita ini..perjalanan ini… rasanya paaaannjjjjaaaangg..dan laaaammaaaa…

Tapi Saya sadar, Saya harus bersyukur untuk bisa sampai di titik ini..

Allah, Sayangi aku.. dan dia

Aamiiiiinnn…=)


*lupa ngambil foto ini dari mana, minta yaa..*


Rindu (Terlarang)

Apa arti kata Kangen atau pun Rindu, semua orang juga tahu. Tapi, rasanya seperti kembali saya men-deny adanya perasaan itu, dan akan berusaha berkali-kali men-deny, atau menghapusnya. Ya… kata-kata itu, tak berani lagi Saya utarakan, meskipun lewat candaan. Rasanya, rindu itu terlarang atau dilarang bagi Saya. Kamu tahu kenapa? Ya, kamu pasti lebih tahu. Tepatnya, Kalian lebih tahu.

Saya takut meng-iya-kan adanya rindu pada sesosok manusia selain Rasulullah SAW. Takut… I’m forgiving n forgetting, but… I’m still learning… Saya belajar untuk tidak lagi mengharapkan Sayalah yang dirindukan. Saya juga belajar untuk tidak lagi menumbuhkan dan menyuburkan rindu yang Saya rasa. Biar Saya redam sendiri. Jikalau sampai kita berjumpa, biarlah setenang mungkin jiwa ini menyambutnya. 

Sungguh, Saya tidak tahu sebodoh kata orang kah Saya, atau semurah kata mereka kah?? Mungkin juga se-buta yang dikatakan para pujangga tentang cinta? Saya juga tidak tahu. Logika Saya masih sering berbicara dan membisikkan kata, bahwa Saya harus tetap fokus pada cita-cita Saya. Cita-cita yang tanpa dia. Biar jodoh bicara nanti. 

Aku, betapa tidak berani lagi menghadapi kata Rindu atau Kangen

Rasanya kata-kata itu tidak layak ada di antara aku dan kamu

Seperti ada bayangan yang pernah merenggutnya

Melarangnya untuk ada

dan berkata, “semoga hilang rasa itu di antara kalian…”

Aku merasa kamu akan baik-baik saja jika aku hilang

Takkan kamu tanya “kemana?”

Kamu terlalu tenang, karena kamu merasa kamu dicintai

Mungkin dulu, kamu berdo’a agar aku mencintaimu juga

Dan saat itu terpenuhi, kamu sudah lelah

Dan beralih merajut rasa yang kamu susuri 

Yang membawamu, jauh dari jangkauan rasaku

-gii-

Karena saya yakin Tuhan menciptakan pernikahan sebagai rumah tempat saya pulang. Di mana setelah menikah, saya jadi punya sarang yang hangat, yang membuat saya nggak mau pergi lagi ke tempat lain.
Bram, suami Fe dalam The Romantic Girls Series: Love, Affair & the Reunion oleh Ifa Avianty (via alkarenoy)
Melukis Pelangi

Hai, Nona!

Lihatlah kesana…

Ada pelangi di depan jalanmu!

Jalan cita-citamu!

Jangan dulu menolehnya.

Mungkin dia punya bentuk pelangi lain..

Berhentilah merasa bahwa dia perlu uluran tanganmu

Tidak!

Lupakan perasaan bahwa kamu bisa menjadi malaikatnya!

Ayoo… bergerak maju ke depan, Nona!

Pelangimu… menantimu.

Tambahkan warnanya…

Karena hanya kamu, Nona… yang bisa melukis pelanginya…

Mencintai dengan Cara Dicintai…

Saya akan belajar Mencintai dengan cara Dicintai…

Entahlah, kata-kata itu mungkin yang saat ini muncul jadi bahan tulisan. Sebenarnya, apa arti Cinta itu sendiri masih kabur bagi Saya. Dulu Saya bisa bilang, “Saya ingin jatuh cinta setelah Saya menikah”. Kenyataannya, Saya perlu jatuh cinta, atau setidaknya merasa bisa jatuh cinta dulu, untuk mau melangkah lebih… Halaaaahhh…

But… Mungkin, Saya akan mulai lagi dengan cara berpikir Saya yang lebih…humm… berdasar evidence based. Hehe… Saat Saya mengamati beberapa orang, terutama orang itu dan itu, Saya melihat, adanya ketertarikan yang sangat “waah”, dimana sangat tampak saling menginspirasi, dan memotivasi, menerima masukan, dan… Mungkin, basic-nya, mereka adalah orang-orang berpengalaman dalam membagi inspirasi dan motivasi.. Ya, orang-orang yang berbakat seperti itu pasti ada. Sedangkan Saya sendiri, jika dihadapkan pada mereka, rasanya Saya bukan apa-apa. Saya lebih sering dibilang tidak mau mendengarkan, sementara kadang atau kerap Saya juga merasa tidak didengarkan.

Saya tidak dewasa. Dan rasanya tidak akan pernah menjadi lebih dewasa dengan terus bertahan di lingkungan orang yang tidak membutuhkan Saya. Seharusnya dengan kedewasaan, Saya bisa memilih dan memilah untuk dekat dengan siapa-siapa yang bisa menjadikan hidup sama-sama berarti dan lebih baik. Bukan hanya lebih baik soal materi, duniawi, di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Allah SWT.

Orang Dewasa tidak hanya bermain janji, tapi komitemen…

Komitmen itu dibuat bersama. Sama-sama komit kalau hal A ini baik atau buruk. Baiknya…begini… 

Entah, apakah Saya sudah atau sedang atau masih jatuh cinta.. Tapi rasanya, sebaiknya tidak ditumbuhkan!

Bukan soal pernyataan atau deklarasi apalagi pengakuan. Cukup Saya lihat dan Saya rasakan… Dan Saya semakin yakin, sebelum jatuh cinta Saya harus menjadi kuat dan memiliki modal yang besar dulu. Persepsinya apakah modal materi atau non materi, ya…mungkin dua-duanya. Yang jelas, Saya tidak mau lagi melihat laki-laki yang Saya sayangi, lebih terinspirasi dan tersemangati oleh perempuan lain! Saya semakin merasa bukan apa-apa. Emang sih…nggak punya apa-apa. Tentang usaha hidup, semua masih teori. 

Huufft… Saya mau bangkit, Ya Rabb… Mau MengejarMu saja… Nanti pilihkan teman sejati untuk sama-sama mengejarMu, ya…

Rasanya, sudah tidak ada harapan..

Mari, kita berteman saja..

Maafkan, sudah mengganggu..

Ternyata Saya sudah lupa untuk malu bertemu..

Saat Saya bercermin…Saya berpikir..

Mungkin, teori ini juga yang dia miliki. Dia merasa Saya mencintainya, dan mungkin…bisa dia cintai kelak… Karena Saya tidak buruk rupa, Saya juga cukup baik, Saya juga tulus, cukup keibuan, maka… Secara logika dan itung-itungannya, Dia bisa merasa beruntung mendapatkannya. Tapi.. jika Saya bukan passion-nya, bukan api-nya, bukan power-nya.. Maka, Saya bukanlah guling, yang saat lelah bisa dipeluk-peluk tanpa dipikirkan bagaimana perasaannya. 

Disana… Saya merasa masih ada banyak cinta..yang jatuh untuk Saya. Dan mungkin, bisa Saya temukan jawabannya. Bisa Saya tumbuhkan juga perasaan Saya padanya…

-gii-

Karena kamu telah menitipkan aku pada doamu, aku tak heran merindukanmu.
(via zarryhendrik)
Saya, Majalah, dan Ternyata Saya…

Saat Saya beberes rak-rak buku dan majalah Saya, rasanya Saya seperti disadarkan pada sisi Saya yang terlupakan. Halaaaaahhh… 

Iya, selama ini Saya merasa stuck di rutinitas per-koas-an Saya. Wajar sih. Itu fokus namanya. Apalagi, jadi dokter kan cita-cita utama Saya, jiwa Saya yang mesti udah setahun ngecap kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, Saya tetap merasa jiwa Saya di kedokteran. Yang lainnya, adalah… another passions!

Apa hubungannya : majalah2, kuliah di fikom, dan passion???

Saya bukanah orang yang kuliah karena liat prospek semata. Tapi liat ke diri Saya sendiri, Saya suka apa. Karena, dimana Saya menjalaninya dengan Suka, disitu ada jalan buat sukses. Apakah ada jaminan semua lulusan univ besar akan jd sukses?? Mungkin, setidaknya mereka sukses masuk univ besar (sedangkan Saya tidak), tapi, makna sukses kan pada proses… dan dunia kerja kelaknya. Saya ga mau melakukan hal yg Saya tidak enjoy.

Dan karena itulah : kalau nggak jadi dokter, Saya ambil komunikasi!

Meski sempet cari info buat Arsitektur ITB, tapi…mendapati kenyataan mata Saya silindris, dan Saya ogah pake kacamata, udah..ah.. teteup aja Dokter atau Komunikasi—biar bisa maen di majalah atau media elektronik dan jadi partnernya Tommy Tjokro! Gyyyyaaaaa

Dan…saat main ke kosan Pipiene, yg anak TekFis ITB itu yang sekarang udah nikah sm temen seangkatan dan udah punya anak lucu bernama HIkari, Saat dia masih single, tingkat satu, dan Saya maen ke kosannya di DAgo Atas, berkenalanlah Saya dengan temannya yang anak Arsi juga. Dan dengan ringannya Pipin bilang, “Gii, kamu pasti bisa bikin gambar2 kayak in..” nunjukin hasil draft gambar temennya. Dan… heeeeuuuuuuu… agak nyesell… kenapa ga nyoba ITB aja sih?? Kan kerreeenn… Kan… kan..jadi bisa bikin gedung2 lagih… Tapi…yasudahlah… Saya juga enjoy di Fikom.

HIngga… Mama pun dapet info tentang FKUPN, dan Saya pun mencoba, ditemani Sahabata Saya, Karina… Ya…akhirnya…disinilah Saya.

Dan melihat majalah2 itu, saya tersadar, bahwa dari jenisnya, koleksi majalah Saya itu mencerminkan apa yang Saya suka :

- Majalah Kedokteran., I’ll be there… Bismillah…^^

- Majalah-Majalah/Tabloid Wanita, nggak langganan, tapi rutin nengok tukang jualan buat liat kontennya. Biasanya dipilih karena :

  1. Resep masakannya asooyy
  2. Model baju2nya kereeen

- Majalah traveling, jalan2… selama masih reachable karena most, harganya mahal2 soalnya banyak foto, dan kontennya tentang tempat2 idaman.

- Majalah tentang desain rumah2, ruangan, gedung, dll

He… Jadi, Saya mah bukan orang yang suka langganan majalah, apalagi buat ngikutin gossip atw kabar artis si A, si B… Saya mah… merasa lebih perlu ngurusin hidup Saya dan orang2 nyata di sekitar Sayah… HEhe ^______________^